Jumat, 19 April 2013

Inilah Orang terkaya no 3 di dunia, Warren Buffet


"Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yg kau miliki, serta ingat :

1. Uang tidak menciptakan manusia,
    manusialah yang menciptakan uang.
2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.
3. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang,
    dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.
4. Jangan memakai merk, pakailah yang benar˛ nyaman untukmu.
5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang
    tidak benar-benar penting.
6. With money:
    You can buy a house, but not a home. 
    You can buy a clock, but not time. 
    You can buy a bed, but not sleep. 
    You can buy a book, but not knowledge. 
    You can get a position, but not respect. 
    You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you.
7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu,
    berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.

sumber : copas

Kamis, 15 Maret 2012

Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
(From : Suluk - Blogsome, Milis Id-GPS)

Sabtu, 21 Mei 2011

I'm an ACTOR, not reactor

Dua org ibu memasuki toko pakaian & membeli baju seragam anaknya.

Ternyata pemilik tokonya lagi bad mood shg tidak melayani dengan baik, malah terkesan buruk, tdk sopan dgn muka cemberut.

Ibu pertama jelas jengkel menerima layanan yg buruk seperti itu.
Yg mengherankan, ibu kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kpd penjualnya.

Ibu pertama bertanya, “Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pd penjual menyebalkan itu?”

Lantas dijawab, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dlm bertindak ? Kitalah sang penentu atas hidup kita, bukan org lain.”

"Tapi ia melayani dengan buruk sekali," bantah Ibu pertama.

"Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dg buruk dll, toh tidak ada kaitannya dg kita.

Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur & menentukan hidup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita," jelas Ibu kedua.

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan org lain kpd kita. Kalau org melakukan hal buruk, kita akan membalasnya dg hal yg lebih buruk lagi. Dan sebaliknya.

Kalau org tdk sopan, kita akan lebih tdk sopan lagi.. Ini berarti tindakan kita dipengaruhi oleh tindakan org lain.

Kalau direnungkan, sebenarnya betapa tidak arifnya tindakan kita.
Mengapa utk berbuat baik saja, harus menunggu diperlakukan dg baik oleh org lain dulu?

Jagalah suasana hati sendiri, jangan biarkan sikap buruk org lain menentukan cara kita bertindak! Kitalah sang penentu yang sesungguhnya!

I'm an ACTOR, not reactor.

dari milis VNI 2011

Kamis, 20 Januari 2011

Teladan Akibat Berdusta

Ada sebuah cerita tentang betapa jeleknya sikap seorang Muslim yang menghina saudaranya yang Muslim. Cerita ini dikisahkan oleh Husein Mazhairi dalam bukunya Jihad an-Nafs. Ada seorang wanita tua pergi menemui dokter.

Dia berkata kepada dokter, “Kertas resep yang telah anda berikan kepada saya telah saya rebus dan saya minum, akan tetapi kesehatan saya belum juga pulih.” Wanita tua itu tidak mengerti bahwa kertas resep itu harusnya untuk menebus obat di apotik bukannya direbus dan diminumnya.


Dokter itu kemudian berkata kepadanya, “Betapa ruginya roti yang diberikan kepada anda oleh suami anda.” Lalu dokter itu pun kembali menuliskan resep, dan menyuruh wanita desa itu pergi ke apotik untuk menebus obat dan menggunakannya, agar penyakitnya sembuh.” Kemudian tiba giliran sahabat Husein Mazhairi, sudah tidak ada orang lain selain dia dan dokter.

Ia berkata kepada dokter, “Wahai dokter, apa yang anda telah perbuat hari ini?” Dokter itu bertanya, “Apa yang telah saya lakukan?” Ia berkata lagi, “Anda tidak hanya telah melakukan satu dosa, melainkan Anda telah melakukan banyak dosa. Dosa anda yang pertama adalah memperolok seorang Muslim. Dan jika seorang Muslim memperolok seorang Muslim lainnya, serta menjatuhkan harga dirinya, maka dosa yang dilakukannya itu sungguh besar sekali.”

Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Adapun dosa yang kedua ialah anda telah menyebabkan orang lain menertawakan dan melecehkan wanita desa itu, sehingga dia merasa malu. Jika anda tidak mengeluarkan kata-kata itu maka orang-orang tidak akan memperolok-olokannya.

Adapun dosa anda yang ketiga adalah anda telah berdusta manakala anda mengatakan, ‘Betapa ruginya roti yang diberikan kepada anda oleh suami anda.’ Perkataan ini adalah dusta. Wanita ini tidak tahu apa yang harus dia lakukan terhadap resep obat. Darimana anda tahu bahwa dia bukan seorang istri dan ibu rumah tangga yang saleh? Dia adalah seorang istri dan ibu rumah tangga yang saleh. Oleh karena itu, perkataan anda yang berbunyi ‘Betapa ruginya roti yang diberikan kepada anda oleh suami anda’ adalah perkataan dusta.”

Dari cerita itu kita dapat melihat betapa perbuatan yang tampaknya kecil ternyata telah mengakibat dosa yang besar. Allah berfirman, “Maka jauhilah olehmu berhala yang najis itu dan jauhilah olehmu perkataan-perkataan dusta.” (QS. al-Hajj:30) Hikmah dari cerita ini salah satunya adalah bahwa kita harus mengawasi tingkah laku kita. Inilah yang membedakan antara orang yang bodoh dan yang berakal. Seorang yang berakal adalah orang yang berpikir terlebih dahulu baru kemudian berbicara; sementara orang yang bodoh adalah orang yang berbicara terlebih dahulu baru kemudian berpikir.

Perilaku seorang Muslim dalam bertindak hendaknya dilakukan dengan berpikir dulu baru kemudian berbicara. Misalnya anda adalah seorang guru, dan kemudian anda berbicara di dalam kelas yang mendatangkan musibah. Perkataan yang anda katakan itu bisa menimbulkan kekacauan pada diri seseorang dan mendatangkan berbagai musibah. Perkataan anda itu pada hakikatnya telah membunuh anak-anak murid. Karena, perkataan anda itu telah merusak kepribadiannya yang ini jauh lebih buruk dibandingkan pembunuhan jasmani.

Ada sebuah kisah yang patut kita simak bahwa dengan tidak berdusta akan berdampak pada kebaikan diri. Ketika Syaikh Abdul Kadir, tokoh sufi terkenal, berusia 18 tahun, ia meminta izin kepada ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalangi cita-cita Abdul Kadir meskipun ia keberatan melepaskan anaknya pergi jauh sendirian. Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam keadaan apapun juga. Ibunya membekalkan uang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir. Sesudah itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad.

Dalam perjalanan, mereka telah diserang oleh para penyamun. Seluruh harta kafilah tersebut dirampas, tetapi penyamun tidak mengusik Abdul Kadir karena menyangka dia tidak mempunyai apa-apa. Salah seorang perompak bertanya Abdul Kadir apa yang dia punya. Abdul Kadir menerangkan dia ada uang 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu kemudian melaporkan kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati ada uang sebagaimana yang dikatakannya.

Pimpinan penyamun bertanya kenapa Abdul Kadir berkata benar walaupun diketahui uangnya akan dirampas? Abdul Kadir menerangkan bahwa dia telah berjanji kepada ibunya supaya tidak berbicara bohong walau apa pun yang terjadi. Ketika mendengar Abdul Kadir berbicara begitu, ketua penyamun menangis dan menginsyafi kesalahannya. Sedangkan Abdul Kadir yang kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya betapa dia yang telah melanggar perintah Allah sepanjang hidupnya. Pimpinan penyamun bersumpah tidak akan merompak lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Kadir diikuti oleh pengikut-pengikutnya.

Merebaknya kedustaan dan langkanya kejujuran inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia terjerambah dalam mega permasalahan sampai sekarang. Dewasa ini ketidakjujuran dalam beragam bentuknya nyaris dapat ditemui pada semua lapisan masyarakat dan pada semua dimensi kehidupan: politik, sosial, ekonomi, atau pendidikan.

Dalam kehidupan politik para politisi lebih terfokus pada perebutan kekuasaan, terutama menjelang Pemilu 2004 daripada mengembangkan kepedulian untuk bersama-sama memperbaiki situasi negara dan bangsa. Suara lantang mereka saat kampanye pemilu lalu bahwa mereka akan memperjuangkan nasib rakyat belum dibuktikan secara serius dan nyata sampai kini. Pada kehidupan sosial, ketidakjujuran juga telah menjadi gejala fenomenal. Kesepakatan untuk hidup damai antar-etnis, antar-agama, dan sejenisnya lebih merupakan sekadar retorika yang tidak didukung kejujuran dan ketulusan hati. Akibatnya, konflik terus berkembang dan kehidupan kian memanas.

Aspek kehidupan lain, seperti pendidikan dan ekonomi, menunjukkan secara jelas kejujuran belum dijadikan landasan mengembangkan kependidikan atau aspek yang bersifat ekonomi. Pendidikan yang berjalan sejauh ini lebih terkesan formalistik ketimbang sebagai proses transformatif. Pendidikan masih belum mampu mengakomodasi eksistensi manusia seutuhnya.

Ekonomi masih bersifat pembangunan kapitalistik yang hanya “membesarkan” sebagian kecil elite bangsa. Pendidikan rakyat atau ekonomi kerakyatan hanya gaung yang belum ada wujudnya. Semua itu mengungkapkan, kebohongan atau kemunafikan telah mendominasi-sampai derajat tertentu-kehidupan bangsa. Sedangkan kejujuran dan sebangsanya kian terpinggirkan dan menjadi barang yang hampir langka bagi “bangsa besar” ini.

Janji-janji muluk para politisi merupakan kedustaan jika mereka tidak menepatinya. Kita sebagai Muslim harus hati-hati di dalam perkataannya dengan berpikir terlebih dahulu, baru kemudian berbicara. Karena jika kita melukai perasaan orang lain maka kita akan kehilangan kecintaan dari hati-hati manusia, dan menjadi orang yang tidak disukai oleh masyarakat.
Di sinilah perang nilai-nilai agama perlu didekati kembali, dipahami, dan diaplikasikan secara utuh. Agama tidak dapat dijadikan sebagai wahana penyelamat manusia di alam eskatalogis semata. Agama perlu dijadikan moralitas kehidupan yang dapat menyelamatkan seluruh umat manusia di dunia dari kehancuran dan kebiadaban. Salah satunya adalah menegakkan sifat kejujuran, yang merupakan buah agama dari nilai-nilai tasawuf yang diajarkan para sufi sejati.

Dalam buku yang sama Husain Mazhairi menceritakan pula sebuah riwayat tentang seorang pemuda yang meninggal dunia. Kemudian jenazahnya dimandikan, dikafankan dan dimakamkan oleh Rasulullah saw. Setelah orang-orang meletakkan jenazah pemuda itu di dalam kubur, ibunya datang ke kuburannya. Lalu ibunya berkata, “Wahai anakku, sebelum ini saya bersedih atas kematianmu. Akan tetapi sekarang, setelah saya menyaksikan Rasulullah saw sendiri yang menguburkan kamu maka saya pun tidak bersedih hati lagi. Ketahuilah olehmu, bahwa kamu adalah orang yang berbahagia.”

Ketika mendengar perkataan itu Rasulullah saw tidak mengatakan sepatah kata pun. Setelah itu ibunya pun pulang. Rasulullah berkata, “Sesungguhnya lubang kubur menghimpitnya dengan himpitan yang mematahkan tulang-tulang dadanya.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, dia adalah seorang pemuda yang baik dan istiqamah.” Rasulullah berkata, “Benar, akan tetapi pada dirinya banyak terdapat perkataan yang tidak perlu. Perkataan yang tidak perlu adalah perkataan yang dikatakan oleh seseorang yang mana perkataan itu tidak ada manfaatnya sama sekali, baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya hasil pertama yang diperoleh dari perkataan yang seperti ini ialah himpitan kubur. Akan tetapi pengaruh ini adalah pengaruh yang bersifat wadh’i (pengaruh yang diletakkan karena suatu hal).

Ada peribahasa yang terkenal di kalangan masyarakat umum yang mengatakan “Perkataan benar yang tampak seperti perkataan dusta jauh lebih buruk daripada perkataan dusta yang tampak seperti perkataan benar.” Tidak demikan, sebenarnya kita harus mengatakan bahwa keduanya itu buruk. Seseorang berkata dusta dengan tujuan supaya manusia membenarkannya. Sungguh ini merupakan perbuatan yang buruk dan merupakan dosa besar. Sekalipun juga seorang suami yang berdusta di hadapan istrinya, atau sebaliknya. Demikian pula manakala seseorang berbicara benar, akan tetapi orang menolak perkataannya. Karena itu dia harus berbicara dalam bentuk yang dapat dipahami oleh akal.

Namun terkadang dalam kenyataan akal kalah dengan otot dan uang. Ini dapat kita lihat di keseharian kehidupan kita. Dalam gedung-gedung terhormat sering terdapat politik dagang sapi, sehingga mereka tidak menempatkan kepentingan masyarakat banyak di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sungguh mereka telah berdusta terhadap rakyatnya.
Dalam banyak riwayat dikatakan, sengatan ini (kata-kata yang melukai perasaan orang lain karena berdusta ) akan berubah menjadi kalajengking, ular berbisa dan serigala yang mengigit manusia di alam kubur dan juga di padang Masyhar dan neraka Jahanam. Sebagaimana perkataan Rumi dalam Matsnawi yang berbunyi, ” Dengan perantaraan sengatan lidah anda maka anda mempersiapkan serigala-serigala yang akan mengigit anda.”

Kita akhiri tulisan ini dengan sebuah doa: Ya Allah, dengan kemuliaan dan keluhuran-Mu, karuniakanlah kepada kami segenap kesadaran, sehingga kami berhati-hati di dalam perkataan kami, niat kami dan tingkah laku kami. Berikanlah taufik kepada kami untuk bisa taat dan beribadah kepada-Mu, serta mampu meninggalkan maksiat terhadap-Mu. Ya Allah, demi kemuliaan dan keluhuran-Mu, tunjukkanlah kami kepada jalan keridhaan-Mu dan cegahlah kami dari segala sesuatu yang mendatangkan kemarahan dan kemurkaan-Mu.
sumber : pelita.or.id

Jumat, 14 Mei 2010

Tulisan-tulisan di Belakang Truk/Bis

1. Anda butuh waktu, kami butuh uang
2. Naik Gratis, Turun Bayar
3. Ma2ku 1/3 dis= Mamaku seperti gadis
4. THE ME anak IS 3 = Demi anak istri
5. Jagalah Jandamu
6. JANGAN DINIKAHI BILA SEGEL RUSAK
7. TABAH MENANTI
8. Ku Nanti Jandamu
9. SEKARANG BAYAR, BESOK GRATIS
10. WWW. APKTNTAJ.COM maksudnya?? hahahaha..APe KaTe eNTe AJe, ternyata!
11. Ber 2 1 7 an= Berdua 1 tujuan
12. MER - 123 - LUCK= Mer-tuwaga-lak.. haha.. bisa ajahh..
13. THONK HE LOVE= tong hilap (don't khilaf), alias don't porget
14. Be are the kill us all come fuck= biar dekil asal kompak..huaahahaha..
15. BE YOUNG CARE ROCK= Biang kerok
16. Alone By Must= Alon bae Mas= Pelan2 aja mas
17. Cintamu Tak Semurni Bensinku
18. Ja 500 Let= ja-gope-let
19. BURONAN MERTUA
20. BERSATU DI PANGKALAN BERSAING DI JALANAN
21. Bercinta di Bis Berpisah di Terminal
22. STREET FIGHTER= maksudnya preman jalanan..
23. PUTUS CINTA sudah biasa PUTUS ROKOK merana PUTUS REM matilah kita.
24. Cintaku Berat Di Bensin 25. MAN 7 jur= Man-tuju-jur
26. JUM'AT KELABU= Trayek Ps. Jumat - Pd. Labu
27. Mencari nafkah demi desah
28. UCOK= Uang Cukup Ongkos Kurang
29. Lupa Namanya, Ingat Rasanya
30. Enak Tapi Dosa
31. Pergi krn tugas pulang karena beras..
32. Rejekiku dari silitmu= tulisan di truk sedot tinja
33. MATSIBISHA atau MUSTIBISHA
34. Cinta ditolak dukun terbahak
35. Goyang pantura
36. Pulang malu, tak pulang rindu..
37. JANDA 1/3 DIS
38. Do Now . Casino . In Draw . War Kop DKI
39. Bkn salah ibu mengandung, salah bapak nggak pake sarung
40. LONG STREET OF MEMORYepanjang Jln Kenangan
41. Ora Sama Bin Lain
42. Besar di rantau, tua di jln
43. Tak sehina yang kau duga
44. ABANG YANG ENAK, ADE YANG MERANA
45. Cintamu tak seberat Bebanku : ditulis di truk muatan pasir.
46. Jika Sopir Truk ini Selingkuh hubungi Lula Kamal Tel : 08158995334

ada mau nambahin...??

Jumat, 16 April 2010

Shalat Subuh di Masjid

Seorang pria bangun pagi-pagi buta untuk shalat subuh di Masjid.
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah.

Di rumah, dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI, berjalan menuju masjid.

Dalam perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yang sama!
Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah.
Di rumah, dia, sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yang memegang lampu.
Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab "Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid. Jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda."

Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid.
Saat sampai di masjid, pria pertama mengajak pria yang membawa lampu untuk masuk dan shalat subuh bersamanya.

Pria kedua menolak. Pria pertama mengajak lagi hingga berkali-kali dan, lagi, jawabannya sama.
Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan shalat.
Pria kedua menjawab: Aku adalah Setan (devil/ evil) Pria itu terkejut dengan jawaban pria kedua.
Setan kemudian menjelaskan, "Saya melihat kamu berjalan ke masjid, dan sayalah yang membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa-dosamu. "

"Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja. Kamu tetap memutuskan kembali masjid.
Karena hal itu, Allah memaafkan dosa-dosa seluruh anggota keluargamu."

"Saya KHAWATIR jika saya membuatmu jatuh untnk ketiga kalinya, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa-dosa seluruh penduduk desamu.
Jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai di masjid dengan selamat.."

Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya.

Jangan melepaskan sebuah niat baik yang hendak kita lakukan karena kita tidak pernah tahu ganjaran yang akan kita dapatkan dari segala kesulitan yang kita temui dalam usaha kita untuk melaksanakan niat baik tersebut.


renungan jum'at dari milis vni

Senin, 06 Juli 2009

Hanya ada di Jakarta ???

Aku tiba-tiba gak nyaman di sini...

Anak lelaki 4 tahun: "Arti pecah belah apa sih, ma?"
Ibu: "Kalo itu kamu pecah, kamu mama belah."

Toko pecah belah Pondok Indah Mal, didengar oleh wanita yang sampai hampir memecahkan belanjaannya.


Mase Mase Basi...

Pelayan Cewe: "Arigato go zai mas..."
Pemuda Playboy sok tahu: "Arigato go zai mbak..."

Sushi Tei, didengar oleh teman yang ingin menjadi orang-orangan sawah.


Itu mah sekali jepret langsung lari...

Pembeli rese: "Mas, ada kamera paranoid ga?"
Penjaga bingung: "Hah?"
Pembeli rese (nada sok tau): "Itu yg sekali jepret langsung jadi..."

Studio Foto, didengar oleh wanita yang membayangkan ekspresi kamera ketakutan.


Gak bisa diusahain, mas?

Internet addict: "Mas, di sini ada hotspot-nya nggak?"
Pelayan: "Kebetulan restoran kami hanya menyediakan makanan Indonesia dengan penyajian standard, mbak."

Restoran di Kemang, didengar oleh seseorang yang hampir menelan sendok.



Kan sekarang jaman mahal!

Si bungsu perempuan ke Ibunya: "Jadi nanti kita daftar TV Kabelnya di Kebon Jeruk yah"
Ibu dengan wajah berseri-seri: "Ya, mending begitu. Kebon Jeruk kan enggak terlalu jauh dari rumah. Jadi nanti kabelnya bisa lebih pendek. Lebih murah."

Rumah di Kemanggisan, didengar oleh kakak lelaki yang ingin menjedutkan kepalanya ke tembok.



Kalo sinyalnya menipis mungkin namanya berubah...

Nyokap: “Ini hape ibu ada G-String-nya nggak?”
Anak (bengong, berharap salah denger): “Hah?”
Nyokap: “Ini Nokia 3300 ibu ada G-String-nya apa nggak?”
Anak (masih bengong dan masih berharap salah denger): “G-String?”
Nyokap: “Iya. Itu lho, yang kalo nelepon kita bisa liat muka orang yang teleponan sama kita.”
Anak: “Yaoloh! 3G?”
Nyokap: “Nah itu dia. Emang tadi ibu ngomongnya apa?”

Didengar oleh anak yang sempat takut ibunya mulai bercerita tentang kumbang dan bunga.



Tambah satu kilo, saya lapar...

Pembeli: "Mas, beli paku tembok..."
Penjual: "Berapa?"
Pembeli: "Setengah kilo aja..."
Penjual: "Dibungkus?"
Pembeli (dengan wajah kesal): "Nggak! Makan sini!"

Toko bangunan Bekasi, didengar pelanggan yang ingin menyediakan sambal
.



Waduh, gua ngomongnya keras ya?

Cewe #1: "Ehh... malem ini kita nonton apa jadinya?"
Cewe #2: "Nih liat di website-nya.. ..Yang seru kayanya cuma Hancock sama Get Smart."
Cewe #1: "Hancock gua mau tuh... tapi Get Smart kurang ah..."
Cowo Nimbrung (tiba tiba muncul): "Iya tuh Getcock emang lebih seru!"

Perkantoran Sudirman, didengar oleh satu ruangan yang mempertanyakan orientasi cowok itu.


Sehat bener ya, jaringannya...

Programmer 1: "Kemaren internet gua udah onlen, cuy"
Programmer 2: "Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu nonton serial di tipi!"
Coordinator: "Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang internet bearbrand... . "

Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan.



Kami perlu yang representatif. ..

Brand Manager: "Hmmm, bagus, visual-nya bagus. Sayang copywriter-nya jelek."
Copywriter: "MAKSUD LOE?"

Didengar oleh Creative Director yang langsung menawarkan mengganti copywriter sambil terbahak.


Yang horisontal kalau bisa!

Di sebuah restoran:
Teman #1: "Eh udahan yuk, kite cabs.."
Teman #2: "Gua aja yang panggilin. Mas! Billboard-nya ya!"

Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya


Dulu di percetakan ya, mas?

Penjaga Parkir: "Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar nih, besok diperpanjang ya."

Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada tulisan EXP di stikernya.


Otomatis ya, mbak?

Kasir: "Mau order apa, mas?"
Pembeli: "Coca-Cola large satu, sama french fries satu... Itu aja, mbak."
Kasir: "Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu.
Mau tambah kentang gorengnya, mas?"

Restoran fast food di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa dicekokin.


Terus jangan kemanisan ya...

Istri terlambat datang: "Yang, kamu tadi pesan apa?"
Suami: "Escargot."
Istri (ke pelayan): "Saya pesan itu juga, tapi es-nya jangan banyak-banyak ya. Lagi agak flu."

Restoran Perancis di Jakarta, didengarkan oleh semua hadirin di meja yang terbengong sambil menahan ketawa.


Yuk, mareeee ...

Petugas Atmosfear sambil menunjuk ke panel kamera: "Mas, nanti waktu meluncur jangan lupa melambai ya?"
Pemuda gemulai: "Ngondek maksud loe?"

FX, didengar oleh pengunjung yang terpingkal-pingkal sendiri.


Mungkin kacamata plus, Pak?

Lelaki Paruh Baya: "Mbak, pesanan saya yang kwetiau ganti deh."
Pelayan: "Jadi apa pak?"
Lelaki Paruh Baya: "Mau coba Ayam Nangkring deh..."
Pelayan: "Ayam Nanking maksud bapak?"
Lelaki Paruh Baya: "Eh, gak jadi deh." (berpikir sambil liat menu) "Ini aja deh kalo gitu, Chicken Garden Blue..."

Solaria, Mal Pondok Indah, didengar oleh pengunjung yang berasa ditonjok hidung dan kemudian ulu hatinya.


Money can't buy everything...

Cowo Tajir: "Wah, gua baru beli notebook baru, canggih, keren..."
Cowo Kere: "Oh ya, notebook loe merknya apaan?"
Cowo Tajir: "Microsoft."

Perkantoran Hijau di Jakarta Selatan, didengar oleh cowo kere yang ngerasa otaknya lebih tajir.

sumber : dari milis VNI